Pages

Subscribe:

Selasa, 05 Juni 2012

Makalah Kepemimpinan Pendidikan


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latarbelakang
Kepemimpinan merupakan bagian penting dari manajemen yaitu merencanakan dan mengorganisasi, tetapi peran utama kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini merupakan bukti bahwa pemimpin boleh jadi manajer yang lemah apabila perencanaannya jelek yang menyebabkan kelompok berjalan ke arah yang salah. Akibatnya walaupun dapat menggerakkan tim kerja, namun mereka tidak berjalan kearah pencapaian tujuan organisasi. Guna menyikapi tantangan globalisasi yang ditandai dengan adanya kompetisi global yang sangat ketat dan tajam.
Sebuah sekolah adalah organisasi yang kompleks dan unik, sehingga memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi.[1] Untuk membantu para kepala sekolah di dalam mengorganisasikan sekolah secara tepat, diperlukan adanya satu esensi pemikiran yang teoretis, seperti kepala sekolah harus bisa memahami teori organisasi formal yang bermanfaat untuk menggambarkan kerja sama antara struktur dan hasil sekolah. Oleh sebab itu dikatakan bahwa” keberhasilan sekolah adalah sekolah yang memiliki pemimpin yang berhasil..
Masalah kepemimpinan pendidikan saat ini menunjukan kompleksitas,baik dari segi komponen manajemen pendidikan, maupun lingkungan yang mempengaruhi keberlangungan suatu pendidikan. Persoalan yang muncul bisa sepontan, bisa berulang-ulang, makanya diperlukan interaksi yang kreatif dan dinamis antar kepala sekolah , guru dan siswa.
Keberhasilan pendidikan di sekolah juga sangat ditentukan oleh keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola tenaga kependidikan yang tersedia di sekolah. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang berpengaruh dalam meningkatkan kinerja guru. Kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana (Mulyasa 2004:25). Hal tersebut menjadi lebih penting sejalan dengan semakin kompleksnya tuntutan tugas kepala sekolah, yang menghendaki dukungan kinerja yang semakin efektif dan efisien. Dalam perannya sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah harus dapat memperhatikan kebutuhan dan perasaan orang-orang yang bekerja sehingga kinerja guru selalu terjaga.
1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian kepemimpinan pendidikan?
2.      Bagaimana tipe-tipe kepemimpinan pendidikan?
3.      Bagaimana cara mengembangkan kepemimpinan pendidikan?
4.      Bagaimankah strategi (langkah-langkah) dalam  Melakukan pengembangan Budaya Mutu Sekolah?
1.3 Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui arti kepemimpinan
2.      Untuk mengetahui tipe-tipe kepemimpinan pendidikan
3.      Untuk mengetahui cara mengembangkan kepemimpinan pendidikan terutama cara mengembangkan kepemimpinan kepala sekolah.
4.      Untuk mengetahui strategi dalam melakukan pengembangan budaya mutu sekolah.




BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 KONSEPTUALIS VARIABEL
A. Pengertian Kepemimpinan Pendidikan

“Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.[2] Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Pada tahap pemberian tugas pemimpin harus memberikan suara arahan dan bimbingan yang jelas, agar bawahan dalam melaksanakan tugasnya dapat dengan mudah dan hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Tiap-tiap orang yang merasa terpanggil untuk melaksanakan tugas memimpin di dalam lapangan pendidikan dapat disebut pemimpin pendidikan, misalnya orang tua di rumah, guru disekolah, kepala sekolah di sekolah maupun pengawas pendidikan di kantor pembinaan pendidikan dan di daerah pelayanannya. Kepemimpinan sangatlah dibutuhkan dalam pembinaan pendidikan.
Secara umum kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai berikut:
  1. Kepemimpinan berarti kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi mendorong, mengajak, menuntun, menggerakan dan kalau perlu memaksa orang lain agar ia menerima pengaruh itu dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu pencapaian sesuatu maksud atau tujuan-tujuan tertentu.[3]
  2. Kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sedemikian rupa sehingga tercapai tujuan dari kelompok itu yaitu tujuan bersama. Pengertian pendidikan itu bersifat universal, berlaku dan terdapat pada kepemimpinan diberbagai bidang kegiatan atau hidup manusia.[4]
Dalam satu situasi kepemimpinan terlihat adanya unsur: orang-orang yang dapat mempengaruhi orang lain disatu pihak, orang-orang yang mendapat pengaruh dilain pihak, adanya tujuan-tujuan tertentu yang hendak dicapai dan adanya serangkaian tindakan untuk mempengaruhi dan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Dengan demikian kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan anggotanya. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan anggota dan juga dapat memberikan pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sehingga terjalin suatu hubungan sosial yang saling berinteraksi antara pemimpin dengan bawahan, yang akhirnya tejadi suatu hubungan timbal balik. Oleh sebab itu bahwa pemimpin diharapakan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya, karena apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan dapat tercapai secara maksimal.
Setelah dipahami pengertian pokok tentang kepemimpinan, maka dapat dipersempit bahwa kepemimpinan yang dimiliki oleh mereka dalam lapangan pendidikan.
Kata “ pendidikan” menunjukkan arti yang dapat dilihat dari dua segi yaitu: pendidikan sebagai usaha atau proses mendidik dan mengajar seperti yang dikenal sehari-hari. Pendidikan sebagai ilmu pengetahuan yang membahas berbagai masalah tentang hakekat dan kegiatan mendidik dan mengajar dari zaman ke zaman dan mengajar dengan segala cabang-cabangnya yang telah berkembang begitu luas dan mendalam. [5]
Oleh karena itu kepemimpinan pendidikan berperan pada usaha-usaha yang berhubungan dengan kegiatan atau proses mendidik dan mengajar disatu pihak, dan pada pihak lain yang berhubungan dengan usaha-usaha pengembangan pendidikan sebagai satu ilmu dengan segala cabang-cabangnya.
Dari titik tolak itu dapatlah disimpulkan pengertian “ kepemimpinan pendidikan” adalah sebagai satu kemampuan dan proses mempengaruhi, mengkoordinir dan menggerakan orang-orang lain yang ada hubungan dengan pengembanga ilmu pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, supaya kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat lebih efektif dan efisien di dalam pencapaian tujuan-tujuan  pendidikan.

  1. Tipe-Tipe Kepemimpinan Pendidikan
Konsep seorang pemimpin pendidikan tentang kepemimpinan dan kekuasaaan yang memproyeksikan diri dalam bentuk sikap kepemimpinan, sifat dan kegiatan yang dikembangkan dalam lembaga pendidikan yang akan dipimpinnya sehingga akan mempengaruhi  kualitas hasil kerja yang akan dicapai oleh lembaga pendidikan tersebut.
Bentuk-bentuk kepemimpinan sering kita jumpai dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Tetapi  disekolahpun terdapat berbagai macam tipe kepemimpinan ini. Sebagai pemimpin pendidikan yang officiat leader, yang cara kerja dan cara bergaulnya dapat dipertanggungjawabkan dan bisa menggerakkan orang lain untuk turut serta mengerjakan sesuatu yang berguna bagi kehidupannya.
Berdasarkan sifat da konsep kepemimpinan maka ada tiga tipe pokok kepemimpinan yaitu: tipe otoriter, tipe laissez faire dan tipe demokrasi.[6]
  1. Tipe otoriter (the autocratic style of leadership)
Pada kepemimpinan yang otoriter, semua kebijakan atau “policy” dasar ditetapkan oleh pemimpin sendiri dan pelaksanaan selanjutnya ditugaskan kepada bawahannya. Semua perintah, pemberian tugas dilakukan tanpa mengadakan konsultasi sebelumnya dengan orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin otoriter berasumsi bahwa maju mundurnya organisasi hanya tergantung pada dirinya.[7] Dia bekerja sungguh-sungguh, belajar keras, tertib dan tidak boleh dibantah.
  1. Tipe Laissez faire (laissez-faire style of leadership)
Pada tipe “laissez faire” ini, pemimpin memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada setiap anggota staf di dalam tata prosedure dan apa yang akan dikerjakan untuk pelaksanaan tugas-tugas jabatan mereka. Mereka mengambil keputusan dengan siapa ia hendak bekerjasama. Dalam penetapannya menjadi hak sepenuhnya dari anggota kelompok atau staf lembaga pendidikan itu.
Pemimpin ingin turun tangan bilamana diminta oleh staf, apabila mereka meminta pendapat-pendapat pemimpin tentang hal-hal yang bersifat teknis, maka barulah ia mengemukakan pendapat-pendapatnya. Tetapi apa yang dikatakannya sama sekali tidak mengikat anggota. Mereka boleh menerima atau menolah pendapat tersebut.
Apabila hal ini kita jumpai di sekolah, maka dalam hal ini bila akan menyelenggarakan rapat guru biasanya dilaksanakan tanpa kontak pimpinan (Kepala Sekolah), tetapi bisa dilakukan tanpa acara. Rapat bisa dilakukan selagi anggota/guru-guru dalam sekolah tersebut menghendakinya.[8]
  1. Tipe demokratis (demokratic style of leadership)
Dalam tipe kepemimpinan ini seorang pemimpin selalu mengikut sertakan seluruh anggota kelompoknya dalam mengambil keputusan, kepala sekolah yang bersifat demikian akan akan selalu menghargai pendapat anggota/guru-guru yang ada dibawahnya dalam rangka membina sekolahnya.
Sifat kepemimpinan yang demokratis pada waktu sekarang terdapat lebih dari 500 hasil research tentang kepemimpinan, jika bahan itu dimanfaatkan dengan baik maka kita akan dapat mempergunakan sikap kepemimpinan yang baik pula. (R.Tjung Wiraputra, 1976 hl 37).
Dalam hasil research itu menunjukkan bahwa untuk mencapai kepemimpinan yang demokratis, aktivitas pemimpin harus:[9]
a.       Meningkatkan interaksi kelompok dan perencanaan kooperatif.
b.      Menciptakan iklim yang sehat untuk perkembangan individual dan memecahkan pemimpin-pemimpin yang potensial.
Hasil ini dapat dicapai apabila ada partisipasi yang aktif dari semua anggota kelompok yang berkesempatan untuk secara demokratis memberi kekuasaan dan tanggungjawab.
Pemimpin demokratis tidak melaksanakan tugasnya sendiri. Ia bersifat bijaksana di dalam pembagian pekerjaan dan tanggung jawab. Dapat dikatakan bahwa tanggung jawab terletak pada pundak dewan guru seluruhnya, termasuk pemimpin sekolah. Ia bersifat ramah dan selalu bersedia menolong bawahannya dengan nasehat serta petunjuk jika dibutuhkan. [10] di dalam kepemimpinannya peimpin sekolah berusaha supaya bawahannya kelak dapat menjalankan tugasnya sebagai pemimpin.
  1. Pengembangan Kepemimpinan Pendidikan
Sedikit mendefinisakan bahwa pengembangan kepemimpinan adalah usaha untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan ketingkat yang lebih tinggi.[11] Pembinaan dan pengembangan kepemimpinan pendidikan ini menjadi tugas dan wewenang dari para pengawas yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Dinas Pendidikan Nasional. Kemudian tanggung jawab pengawas sekolah berdasar Keputusan Mentri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No. 118 Tahun 1996.[12]
                Keberadaan struktur, sistem, dan budaya merupakan hambatan perubahan daripada berfungsi sebagai fasilitator. Tingkat kepentingan yang tinggi sangat membantu dalam menyelesaikan semua tahap proses transformasi. Jika tingkat perubahan eksternal terus naik, maka tingkat kepentingan menjadi dominan, organisasi harus (memposisikan diri) dalam arus pengembangan era global. Model abad kedua puluh bukanlah merupakan periode yang panjang, tenang atau puas, karena periode ini begitu singkat, sementara aktivitas kerja sangat padat.
            Tingkat kepentingan yang lebih tinggi memicu dinamisasi kependidikan yang lebih kreatif dan inovatif. Peningkatan urgensi kepemimpinan pendidikan membutuhkan sistem informasi kinerja yang jauh lebih unggul daripada apa yang biasanya. Sistem penyediaam informasi kinerja selayaknya dapat menginformasikan yang valid dan originalitas, terutama tentang kinerja. Informasi tentang kepuasan peserta didik harus dikumpulkan lebih akurat.
Dengan demikian, para manajer pendidikan seharusnya meningkatkan intensitas melihat dan mendengar keluhan para pelanggan (pelanggan pendidikan) khususnya mereka yang tidak puas terhadap layanan pendidikan. Untuk menciptakan sistem dan memanfaatkan out put secara produktif, budaya sekolah dimulai dengan penanaman nilai-nilai luhur, kejujuran, menggabungkan norma dan kebijakan. Kemudian jumlah rutinitas kinerja yang kurang efektif harus dihilangkan. Perubahan dimulai dari pemimpin pendidikan, kemudian memberikan pengaruh terhadap beberapa personel sekolah melalui contoh perilaku yang dapat membentuk budaya sekolah sehingga menghasilkan beberapa keuntungan oraganisasi sekolah.
            Semua organisasi pendidikan membutuhkan pemimpin yang baik yang bertanggung jawab. Kerja sama tim diperlukan untuk menghadapi transformasi secara periodik. Suksesi di bagian pemimpin organisasi mungkin  tidak lagi menjadi media untuk melatih dan memilih satu orang untuk mengantikan yang lain. Suksesi bisa menjadi proses pengembangan kepemimpinan pendidikan.[13]
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku pemimpin, diantaranya keahlian dan pengetahuan yang dimilikinya, jenis pekerjaan atau lembaga yang dipimpinnya, sifat-sifat dan kepribadiannya, sifat-sifat dan kepribadian pengikutnya, serta kekuatan-kekuatan yang dimilikinya (Purwanto, 2004: 61). Faktor-faktor ini tentunya juga memiliki pengaruh dalam pengembangan kemampuannya. Secara internal, seorang pemimpin dapat melakukan hal-hal yang dapat mengembangkan kemampuannya, diantaranya:
  1. Selalu belajar dari pekerjaan sehari-hari terutama dari cara kerja anggotanya
  2. Melakukan observasi kegiatan manajemen secara terencana
  3. Membaca berbagai hal yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang sedang dilaksanakan
  4. Memanfaatkan hasil-hasil penelitian orang lain
  5. Berfikir untuk masa yang akan datang
D. Strategi (langkah-langkah) dalam  Melakukan pengembangan Budaya Mutu Sekolah
Perbaikan mutu berkesinambungan adalah ciri manajemen pengendalian mutu. Oleh karena itu, untuk mengembangkan budaya mutu sekolah kepala sekolah dituntut untuk terus mengadakan perbaikan mutu pendidikan secara berkelanjutan atau berkesinambungan. Jika perbaikan mutu pendidikan berkesinambungan itu mengacu kepada siklus Deming( Deming cycle) maka, langkah-langkahnya adalah:[14]
1.      Mengadakan riset pelanggan dan menggunakan hasilnya untuk perencanaan produk pendidikan (plan).
2.      Menghasilkan produk pendidikan melalui proses pembelajaran (do)
3.      Memeriksa produk pendidikan melalui evaluasi pendidikan/evaluasi pembelajaran, apakah hasilnya sesuai rencana atau belum (check).
4.      Memasarkan produk pendidikan dan menyerahkan lulusannya kepada orang tua atau masyarakat, pendidikan lanjut, pemerintah dan dunia usaha (action).
5.      Menganalisis bagaimana produck tersebut diterima dipasar, baik pada pendidikan lanjutan atau di dunia usaha dalam hal kualitas, biaya dan kriteria lainnya (analyze). (Bounds, G. 1994)
Goetch dan Davis seperti yang dikutip oleh Nursya’bani Purnama (2006) menyodorkan checklist berupa langkah-langkah bagi manajer (kepala sekolah) yang bisa dijadikan pedoman untuk melakukan pengembangan budaya mutu, yaitu:
1.      Identifikasi Kebutuhan Perubahan
Budaya organisasi saat ini merupakan budaya kualitas jika memenuhi karakteristik berikut:
a.       Komunikasi terbuka dan terus-menerus
b.      Saling mendukung partnership internal.
c.       Menggunakan pendekatan kerja tim dalm menyelesaikan masalah.
d.      Berobsesi terhadap perbaikan terus-menerus
e.       Partisipasi dan keterlibatan pekerja secara luas.
f.       Mempertahankan masukan dan umpan balik dari konsumen.
2.      Menuangkan perubahan yang direncanakan, secara tertulis perubahan yang akan dilakukan harus dibuat daftar disertai penjelasnnya.
3.      Mengembangkan rencana untuk membuat perubahan
Pengembangan rencana perubahan dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan who-what-when-where-how, berikut ini:
a.       Siapa yang kena pengaruh perubahan? Siapa tang harus terlibat agar perubahan berhasil? Siapa yang menentang perubahan.
b.      Tugas apa yang harus diselesaikan? Apa saja hambatan utama perubahan? Produser dan proses apa yang berhubungan dan kena pengaruh perubahan.
c.       Kapan perubahan dilakukan? Kapan kemajuan perubahan diukur? Kapan pelaksanaan perubahan selesai.
d.      Di mana dilakukan perubahan? Dimana orang-orang dan proses yang terkena pengaruh perubahan?
e.       Bagaimana seharusnya perubahan dibuat? Bagaimana dampak perubahan terhadap orang-orang dan proses yang telah ada? Bagaimana perubahan akan meningkatkan kualitas, produktivitas dan daya saing?
4.       Memahami proses transisi emosi[15]
Perilaku perubahan harus memahami proses transisi emosi seseorang seperti yang telah diuraikan di atas. Pembentukan budaya kualitas termasuk perencanaan dan aktivitas spesifik dalam setiap bisnis dan departemen. Pembentukan budaya kualitas harus diawali dengan memahami proses emosi para pekerta. Manajer perlu untuk mengakui dan mengakomodasi transisi emosi pekerja yang diperlukan tidak hanya pekerja tetapi juga manager itu sediri sebagai langkah dalam menuju konversi terhadap kualitas. Goetch dan Davis sebagaimana yang dikutip oleh Nursyabani purnama (2006) menyebutkan proses transisi emosi yang dilewati seseorang ketika dikonfrintasi dengan perubahan yang menimbulkan trauma dalam kehidupannya.
5.      Identifikasi orang-orang kunci dan membujuk mereka agar mendukung perubahan. Menemukan orang-orang kunci, baik pendukung maupun penentang perubahanpenting dilakukan untuk penentuan keterlibatan dan pemberian peran dalam mengambil keputusan.[16]
a.       Gunakan akal dan pendekatan dari hati ke hati
Reaksi terhadap perubahan lebih banyak dilakukan dengan menggunakan perasaan  daripada akal, terutama pada awal perubahan. Oleh karena itu, pendekatan komunikasi dari hati ke hati yang terbuka akan mendukung keberhasilan pendukung.
b.      Lakukan perubahan dengan mesra
Kemesraan merupakan fase hubungan  antara pelaku dan penentang perubahan yang berjalan lamban akan tetapi mengarah pada kondisi yang diharapkan. Pada fase ini pelaku perubahan mendengarkan secara cermat dan menanggapi dengan sabar keprihatinan penentang perubahan. Jika hubungan ini berjalan mesra, perubahan akan berhasil.
c.       Dukung, dukung dan dukung
Strategi terakhir dalam melakukan perubahan adalah memberikan dukungan materill. Moral dan emosi yang diperlukan seseorang untuk terlibat dalam perubahan. Agar bisa memberikan dukungan, maka pelaku perubahan harus menjalin komunikasi yang efektif.

2.2 KONTEKSTUALISASI VARIABEL
STUDI KASUS
Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif, merupakan kunci kesuksesan di sekolah, karena kepemimpinan kepala sekolah mempunya peran dan pengaruh yang cukup besar di dalam kehidupan sekolah. Di sini saya mengutip sebuah permasalahan yang bener-benar terjadi didalam lembaga sekolah dasar. Sebuat saja namanya pak Anton. Beliau baru saja di angkat menjadi kepala sekolah di Lembaga SD (sekolah dasar) swasta yang baru 3 tahun beroperasi. Beliau merasa bersyukur dan senang sekali dengan promo yang beliau dapatkan dan merasa percaya diri bahwa beliau bisa memimpin SD tersebut agar menjadi berkembang. Namun baru berusia 2 tahun  memimpin, beliau mulai menghadapi permasalahan yang terus berdatangan. Mulai dari komplain orang tua soal toilet, kegiatan pembelajaran yang dinilai  tidak berkualitas, sarana yang tidak memadai serta komunikasi dengan guru yang belum berjalan baik. Setiap kali beliau menerapkan kebijakan baru selalu ditanggapi dingin oleh para staff atau anggotanya. Beliau berusaha  menjalankan tugasnya dengan sebaik mungkin, terutama memfokuskan pada hal-hal yang bersifat administratif. Setelah satu tahun ajaran beliau memimpin sekolah belum dirasakan perkembangan yang berarti. Komplain-komplain dari orang tua terus berdatangan mengenai berbagai aspek yang ada di sekolah dan menyampaikan tuntutan yang begitu tinggi terhadap sekolah.
 


BAB III
IMPLIKASI DAN PEMBAHASAN

3.1  Penilaian
Sebagai sebuah organisasi, sekolah merupakan lembaga yang bersifat kompleks dan unik. Di dalamnya terdapat berbagai dimensi yang saling berkaitan dan menentukan, serta memiliki ciri tertentu yang tidak dimiliki organisasi lain. Berkembang tidaknya sekolah sagatlah dipengaruhi oleh kepemimpinan dari kepala sekolah yang merupakan pejabat formal, manajer, pemimpin, pendidik, dan juga sebagai staf. Dalam hal ini kepala sekolah harus memerhatikan tiga hal, yaitu proses; pendayagunaan seluruh sumber organisasi; dan pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Mendengar dan membaca studi kasus tersebut sangatlah prihatin kepada kepala sekolah (pak Anton) tersebut. Namun jika seluruh konsep tentang kepemimpinan kepala sekolah sudah dilaksanakan dengan baik dan benar pastilah sekolah tersebut akan maju dan berkembang. Namun kenyataan yang dirasakan oleh kepala sekolah tersebut tidaklah sesuai dengan yang diharapkannya. Menurut penilaian pribadi saya, bahwasanya pak anton sebagai kepala sekolah masih kurang pendekatan terhadap staf atau guru yang ada disekolah tersebut. 
Sebagai pemimpin kepala sekolah pak anton  harus mampu mendorong timbulnya kemauan yang kuat dengan penuh semangat dan percaya diri kepada  para guru, staf dan siswa dalam melaksanakan tugas masing-masing. Juga memberikan bimbingan dan pengarahan para guru, staf dan para siswa serta memberikan dorongan memacu dan berdiri di depan demi kemajuan dan memberikan inspirasi sekolah dalam mencapai tujuan.
Tuntutan masyarakat untuk mendapat pendidikan yang baik, murah dan berkualitas adalah tantangan yang harus dijawab dengan baik,  akurat, informatif dan aplikatif oleh kepala sekolah. Jika ada sekolah yang kekurangan dana tetapi berkualitas,sangat luar  luar biasa kinerja kepala sekolah beserta seluruh jajarannya.
Kepala sekolah adalah penanggungjawab tunggal yang bertanggungjawab di lingkungan sekolahnya. Untuk itu, kepala sekolah sebagai pemimpin harus memiliki sifat kepemimpinan yang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah.
Dalam teori tentang kepemimpinan bahwasanya ada tiga tipe kepemimpinan yakni tipe otoriter , tipe laissez faire dan tipe demokratis. Menurut penilaian dalam hal ketiga tipe ini kepala sekolah tersebut masih kurang dan belum masuk kedalam tiga tipe kepemimpinan ini. Seperti salah satu contoh tipe kepemimpinan yakni tipe demokratis bahwasanya tipe ini ketika mengambil sebuah keputusan diharuskan memusyawarah terlebih dahulu, namun kenyataannya tidak begitu . sehingga para staf atau pendidik merasa tidak puas atau senang dalam kepemimpinannya pak anton. Para guru hanya bersikap dingin terhadap beliau.
Ketika seseorang sedang mempunyai tugas untuk memimpin sesuatu terutama memimpin sekolah, kepala sekolah pun harus punya gaya kepemimpinan tersendiri . gaya kepemimpinan yakni pola-pola perilaku pemimpin yang digunakan untuk mempengaruhi aktivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan dalam suatu organisasi, dan juga mempertahankan bawahannya dengan meningkatkan kesejahteraanya serta bagaimana seorang pemimpin atau kepala sekolah berkomunikasi dengan bawahannya (para staf) yang terlibat. jika gaya kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan, akan mengakibatkan bawahan merasa tidak diperlukan, karena pengambilan keputusan tersebut terkait dengan  tugas bawahan sehari-hari. Pemaksaan kehendak oleh atasan  mestinya tidak dilakukan. Namun pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat merupakan tindakan yang bijaksana kepada bawahannya.

 
3.2  Pengidentifikasian

Kepemimpinan merupakan proses dimana seorang individu mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai suatu tujuan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif, seorang kepala sekolah harus dapat mempengaruhi seluruh warga sekolah yang dipimpinnya melalui cara-cara yang positif untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah.

Membaca studi kasus yang sudah tertera diatas, bahwasanya masih banyak kekurangan yang harus dibenahi dalam kepemimpinan sekolah yang dikelolanya. Dalam Di antaranya yakni  strategi atau langkah-langkah dalam melakukan pengembang budaya mutu sekolah tersebut masih sangat kurang dan tidak sesuai dengan konsep didalam kepemimpinan dalam pendidikan. Seperti halnya identifikasi kebutuhan perubahan yang mana mempunyai karakteristik tersendiri: komunikasi terbuka dan terus-menerus, sedangkan melihat dari studi kasus tersebut seorang kepala sekolah tidak melakukan hal tersebut sehingga para staf ataupun anggota (para guru) bersikap dingin terhadap kebijakan yang telah dibuat oleh pak Anton selaku kepala sekolah. Disisi lainnya yakni mengembangkan rencana untuk membuat perubahan pun masih belum bisa atau masih belum sesuai dengan tujuan yang diinginkannya, sehingga sekolahpun belum bisa berkembang.

Menurut saya bagaimana sekolah akan berkembang atau maju pesat sedangkan kepala sekolahpun masih belum bisa  memahami bagaimana cara mengembangkan sekolah tersebut. Jika dalam suatu lembaga tersebut tidak dilakukannya pemikiran individu dengan individu lainnya pastinya sekolah tersebut akan sulit menyaingi sekolah yang lain.  

Di samping sekolah bertumpu pada masyarakat, sekolah harus pula mampu mendukung kerukunan antarwarga sekolah. Kerukunan adalah suatu kondisi sekolah di mana terdapat suasana damai, penuh kekeluargaan dan juga saling tolong menolong. Sebagai kepala sekolah harus mampu menciptakan suasana seperti kemampuan menyelesaikan kasus terutama kasus yang sedang beliau kelola. Kesejahteraan, pengembangan warga dan lain sebagainya.


3.3  Rekomendasi
Memang sudah  kewajiban kepala sekolah untuk  memikirkan manajemen sekolah agar manajemen sekolah menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dan agar sekolah yang di pimpinnya juga tetap bisa menjadi sekolah unggulan. Tapi mungkin cara kepala sekolah itu salah, system yg diterapkan nya mungkin melebihi batas kemampuan para guru dan staff, sehingga mereka merasa beban kerja nya terlalu berat sehingga para guru tersebut merasa cuek terhadap apa kebijakan baru yang dibuat oleh kepala sekolah tersebut.

Saran saya adalah,seharusnya kepala sekolah sebagai seorang pemimpin yang bijak, dalam menerapkan manajemen sekolah yang lebih baik sebaiknya membicarakan dulu kepada para guru dan para staff untuk  meminta saran dan pendapat  mereka sehingga manajemen sekolah yang diharapkan kepala sekolah bisa berjalan dengan baik.sehingga tidak ada yang merasa dibebankan. Dan juga kepala sekolah tersebut harus bisa selalu memotivasi para staf (guru) dan juga siswanya agar dalam menjalankan kependidikan ini lebih baik lebih maju sesuai yang diharapkan oleh semua pihak. Dilihat dari permasalahan yang terjadi pada kasus tersebut yakni masalah toilet atau yang lainnya sebagai kepala sekolah harus lebih cepat dan cekatan dalam menyelesaikan masalah tersebut, sehingga warga masyarakat yang mensekolahkan anaknya dilembaga tersebut merasa puas. Terlebih lagi kinerja seorang guru harus lebih diperbaiki lagi sehingga pengembangan mutu pendidikan akan tercapai dengan baik.

Di dalam menghadapi masalah-masalah hendaknya pemimpin pendidikan itu sebisa mungkin bersikap tenang dan memiliki sifat positif seperti sabar, bijaksana dapat menempatkan dan mengontrol diri. Dengan cara begitu diharapkan beliau dapat mengambil keputusan  yang sehat. Pertanggungjawaban itu didukung oleh rasa kasih sayang yang bersifat tidak cari laba . rasa kasih itu memberi kesabaran terutama kepada kepala sekolah untuk bisa memahami dan melayani para guru dengan baik.


PENUTUP

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas maka dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa  kepemimpinan pendidikan adalah Sebagai satu kemampuan dan proses mempengaruhi, mengkoordinir dan menggerakan orang-orang lain yang ada hubungan dengan pengembanga ilmu pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, supaya kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat lebih efektif dan efisien di dalam pencapaian tujuan-tujuan  pendidikan.
Sedangkan sifat dan konsep kepemimpinan itu ada tiga tipe pokok kepemimpinan yaitu: tipe otoriter, tipe laissez faire dan tipe demokrasi. Adapun faktor yang mempengaruhi perilaku pemimpin, diantaranya keahlian dan pengetahuan yang dimilikinya, jenis pekerjaan atau lembaga yang dipimpinnya, sifat-sifat dan kepribadiannya, sifat-sifat dan kepribadian pengikutnya, serta kekuatan-kekuatan yang dimilikinya. Secara internal, seorang pemimpin dapat melakukan hal-hal yang dapat mengembangkan kemampuannya, diantaranya:
  1. Selalu belajar dari pekerjaan sehari-hari terutama dari cara kerja anggotanya
  2. Melakukan observasi kegiatan manajemen secara terencana
  3. Membaca berbagai hal yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang sedang dilaksanakan
  4. Memanfaatkan hasil-hasil penelitian orang lain
  5. Berfikir untuk masa yang akan datang
Kesimpulan dari sebuah  studi kasus tersebut yakni seorang kepala sekolah harus lebih bijak lagi dalam membuat sesuatu yang berhubungan dengan peraturan lembaga sekolah, sebelum peraturan tersebut dibuat diharapkan kepala sekolah tersebut memusyawarahkan kepada para guru sehingga  kerukunan antar guru dan kepala sekolah berjalan dengan baik. Disisi lain kapsek (kepala sekolah) harus mendahulukan mana yang lebih penting yang harus diperbaharui jika sarana prasaran yang dianggap penting seharusnya di dahulukan sehingga wali murid dan siswa tersebut merasa nyaman masuk kelembaga tersebut. Dan juga kinerja pendidik harus dievaluasi dan diperbaiki  sehingga proses pembelajaran menjadi efektif dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Indrafachru,soekarto,dkk.1983.  Pengantar kepemimpinan pendidikan. Surabaya: Usana offset printing
Indrafachrudi, soekarto. 2006.  Bagaimana Memimpin sekolah yang Efektif. Bogor: Ghalia Indonesia.Cet ke 2.
Mulyadi, M.Pd.I. 2010. Kpemimpinan Kepala Sekolah. Malang: Uin-Maliki Press (Anggota Ikapi
Nanang Fattah, 1996.  Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung : Rosdakarya.
Nur Munajat, 2011. Hand Out Leadership, yogyakarta: UIN Suka-Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

Rohmat, M. Ag, M. Pd. 2010.  Kepemimpinan Pendidikan Strategi Menuju Sekolah Efektif, Yogyakarta: Cahaya Ilmu
Soetopo hendyat,dkk. 1984. Kepemimpinan dan supervisi pendidikan.  Malang : Bina Aksara
Wahjosumidjo,2002. kepemimpinan kepala sekolah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada





[1] Wahjosumidjo,2002. kepemimpinan kepala sekolah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
[2] Nanang Fattah, 1996. Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung : Rosdakarya, hal 88.
[3] Indrafachru,soekarto,dkk. 1983. Pengantar kepemimpinan pendidikan. Surabaya: Usana offset printing hal  23
[4] Soetopo hendyat,dkk. 1984. Kepemimpinan dan supervisi pendidikan. Malang : Bina Aksara. hal 1
[5] Indrafachru,soekarto,dkk. Opcit hal 32

[6] Indrafachru,soekarto,dkk. Opcit,  hal 49
[7] Mulyadi.  2010. Kepemimpinan kepala sekolah. Malang: Uin-Maliki Press (Anggota Ikapi) hal  45
[8] Soetopo hendyat,dkk. Opcit.  hal  8
[9] Soetopo hendyat,dkk. Opcit . hal  11
[10] Indrafachrudi, soekarto. Opcit .hal  22
[11] Nur Munajat, 2011. Hand Out Leadership, UIN Suka-Fakultas Tarbiyah dan Keguruan: 2011), hal. 39
[12] Ibid,. hal. 37
[13] Rohmat, M. Ag, M. Pd, Kepemimpinan Pendidikan Strategi Menuju Sekolah Efektif, (Yogyakarta: Cahaya Ilmu, 2010), hal. 99-100
[14] Mulyadi, kepemimpinan kepala sekolah, malang: Uin-Maliki press hlm 155
[15] Ibid, hal 157
[16] Ibid hal 159-160

0 komentar:

Poskan Komentar